Langsung ke konten utama

Pahlawan Kemerdekaan Nasional - Dewi Sartika (1884-1947)

Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Bakat pendidik
Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.
Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.
Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.
Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu
Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.
Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Mengingat Rasa Yang Terdapat Pada Lidah

Selamat malam sob :). Gimana kabarnya nih sob?? Pasti baik bukan?? hehehe :). Sambil liat untung ada sule enaknya mah berbagi ilmu nih sob :). Saya akan berbagi ilmu tentang "Cara Mudah Mengingat Rasa Yang Terdapat Pada Lidah". Udah pada tau belum apa itu lidah??. Lidah adalah indra pengecap yang terdapat di dalam mulut kita. Sebelumnya saya mau bercerita sedkit dulu tentang lidah ini sob. Lidah ini membantu kita untuk merasakan rasa-rasa pada benda, makanan, minuman, buah-buahan dsb. Jadi jangan pernah kita bersilat lidah #ups maksud saya jangan pernah menyakiti lidah kita sob :).

   Mau tau rasa yang terdapat pada lidah??
Langsung aja cekidot sob :)

Pahit = berada di pangkal lidah
Asam = berada di lidah bagian tepi
Manis = berada di ujung lidah
Asin    = berada di samping depan
Adapun rasa pedas jika makan cabe disebabkan oleh teriritasinya sel-sel reseptor oleh minyak atsiri

   Mudah sih sob, Tapi tempat-tempatnya yang susah sob?? hehehe :)
Mau tau cara mudah untuk mengingatny…

Cara Mudah Mengingat Bagian Dan Fungsi Indra Pendengaran

Selamat malam sob :). Gimana kabarnya nih?? Pastinya baik bukan?? hehehe :). Sebenernya mah cuaca lagi mendukung nih sob, tapi enaknya mah berbagi ilmu sob :). Saya akan berbagi ilmu tentang "Cara Mudah Mengingat Bagian Dan Fungsi Indra Pendengaran". Udah pada  tau belum, apa itu Indra Pendengaran??. Indra Pendengaran adalah sistem indra yang biasa untuk mendengar, dan biasanya indra pendengaran nih berupa telinga. Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit dulu nih tentang telinga kita sob. Kita seharusnya menjaga telinga kita sob, karena apa?? Sudah banyak kasus gangguan telinga yaitu Tuli Saraf. Tuli Saraf ini disebabkan putusnya saraf pendengaran sob. Jadi jangan sekali-kali telinga kita di dekatkan dengan suara yang nyaring sob :).

   Mau tau bagian dan fungsi telinga??
Langsung aja cekidot sob :)

1. Telinga Luar     - Daun Telinga (aurikel). Fungsi dari daun telinga sendiri adalah untuk mengumpulkan gelombang suara ke saluran telinga    - Saluran Telinga (tabung auditor…

Cara Mudah Mengingat Bagian Dan Fungsi Sel

Selamat malam sob :).Gimana kabarnya nih? Pasti baik bukan?? heheheh. Sambil nonton copa van java, Lebih enaknya saya berbagi ilmu nih sob :). Saya akan berbagi ilmu tentang "Cara Mudah Mengingat Bagian-Bagian Sel". Oh ya, Udah pada tau belum apa itu sel sob?,hehehhe :). Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup sob. Sebelumnya saya ingin cerita sedikit dulu tentang sel ini sob.Jadi misalkan pedang sob, Kan ada tuh bagian lancipnya sob, Nah sel juga sama seperti bagian runcingnya itu sob. hehehhe :).

   Mau tau ada berapa bagian dari sel itu? Dan apa saja fungsinya??
Langsung aja cekidot sob :)

1. Membran Sel                      = Membran sel sering disebut membran plasma yang bersifat semipermeabel. Artinya membran sel hanya dapat dilewati oleh zat tertentu. Fungsi dari membran sel itu sendiri adalah pelindung sel dan keluar masuknya zat dari dan ke dalam sel.

2. Sitoplasma                           = Cairan yang mengisi sel yang mengandung berbagai zat koloid. Fungs…